Motivasi hidup seorang muslim

Motivasi hidup seorang muslim

motivasi hidup

Mengapa banyak umat, termasuk pengemban dakwah, butuh dengan training-training motivasi keislaman dengan ragam bentuknya itu? Mengapa banyak Muslim begitu antusias—meski harus mengeluarkan ratusan ribu hingga jutaan mengikuti kegiatan-kegiatan motivasi hidup?, bahkan tak cukup hanya satu-dua kali tapi berkali-kali.

Tak cukupkah al-Quran dan as-Sunnah—yang kata Baginda Nabi saw. masing-masing merupakan wacana terbaik (khayr al-kalam) dan petunjuk terbaik (khayr al-hady)—menjadi sumber motivasi?

Sahabat Amr bin Jamuh ra. adalah seorang yang pincang. Ia memiliki empat anak laki-laki. Semuanya selalu menyertai Rasulullah saw. dalam peperangan. Saat Perang Uhud tiba, Ibn Jamuh benar-benar memiliki motivasi hidup yang tinggi, ia ingin menyertai anak-anaknya berperang. Sudah lama ia ingin mati syahid (motivasi hidup tertingginya hidup didunia ini hanya untuk kepentingan akhirat). Sudah lama surga terbayang-bayang di matanya. Namun, saudara-saudaranya selalu mencegahnya. “Engkau telah dikecualikan karena kakimu (pincang). Engkau tak perlu ikut serta.” Ia menjawab, “Sungguh menyedihkan. Anak-anakku akan masuk surga, sementara aku tertinggal di belakang.”

Ia pun segera melengkapi dirinya dengan senjata, seraya berdoa, “Ya Allah, janganlah Engkau mengembalikan aku kepada keluargaku.”

Ia lalu bergegas menemui Baginda Rasulullah saw. dan berkata, “Sungguh, aku ingin gugur sebagai syuhada, tetapi saudara-saudaraku selalu melarangku ikut berjihad. Wahai Rasulullah, saat ini aku tak bisa lagi menahan keinginanku yang menjadi motivasi hidupku. Aku berharap dapat berjalan-jalan di surga dengan kakiku yang pincang ini.”

Rasul menjawab, “Amr, engkau memiliki udzur. Jadi, tak mengapa jika engkau tak ikut serta berperang.”

Namun, karena kuatnya keinginan untuk mati syahid dan masuk surga, Amr terus mendesak Rasulullah saw. Akhirnya, beliau pun mengizinkannya. Seketika, tanpa membuang waktu, dengan tertatih-tatih Amr segera menuju medan perang. Allah SWT mengabulkan keinginannya. Ia pun gugur sebagai syuhada, tak pernah kembali lagi kepada keluarganya (Al-Kandahlawi, Fadha’il A’mal, hlm. 624).

Kisah-kisah semacam ini amatlah banyak. Ada Hanzhalah ra. yang begitu ringannya meninggalkan indahnya ’malam pengantin’ bersama istrinya—yang baru beberapa jam lalu ia nikahi—saat ada panggilan jihad dalam Perang Uhud. Ada Umair bin Hammam ra. yang melesat secepat kilat untuk berjihad saat Rasul menjanjikan surga bagi siapa saja yang ikut Perang Badar. Ia pun seketika membuang kurma-kurma yang sedang ia santap karena ia anggap akan terlalu banyak memakan waktu. Ada Umair ra.—saat itu ia baru berusia 9 tahun—saudara Saad bin Abi Waqqas ra., yang terpaksa harus sembunyi-sembunyi ikut serta dalam Perang Badar. Ia khawatir dilarang ikut berjihad oleh Rasulullah saw. karena masih kecil. Demikianlah, masih banyak kisah-kisah lain yang serupa, yang menunjukkan semangat yang tinggi dan selalu berkobar-kobar dari para Sahabat ra. dalam menyambut seruan jihad fi sabillillah.

Pertanyaannya: mengapa para Sahabat ra. begitu mudah termotivasi hanya saat mendengar kata surga? Mengapa mereka selalu antusias saat ada panggilan jihad? Bukankah jihad (perang) berarti mempertaruhkan nyawa dan sering berujung pada kematian?

Bagaimana dengan kita, khususnya kaum muslimin dan pengemban dakwah di negeri ini, saat ada panggilan dakwah yang sering hanya mempertaruhkan waktu, tak sampai mengorbankan nyawa? Selalu semangatkah kita berdakwah? Selalu berharapkah kita akan panggilan dakwah? Selalu rindukah kita akan taklif-taklif dakwah? Ataukah kita masih membutuhkan banyak training motivasi untuk melecut semangat dakwah kita karena kata surga pun tak lagi cukup memotivasi kita?

sumber: http://ariefbiskandar.com